Perjuangan Muslim di Timur Laut Italia untuk Memiliki Masjid Sendiri

redaksi
3 Min Read

SUARA MASJID | Roma–Ratusan pria Muslim bersujud di tempat parkir beton saat melaksanakan salat Jumat di kota Monfalcone, Italia timur laut, Jumat (3/5) lalu.

Mereka adalah sebagian kecil dari umat Islam di kota tersebut yang sejak November dilarang beribadah di dua pusat kebudayaan oleh wali kota berideologi sayap kanan.

Sebagai gantinya, mereka berkumpul di lokasi konstruksi milik pribadi. Warga Muslim di sana menunggu keputusan pengadilan akhir Mei untuk menyelesaikan masalah zonasi yang dianggap telah melanggar hak konstitusional mereka untuk beribadah.

Seorang warga negara Italia yang datang dari Bangladesh pada 2006, Rejaul Haq, merasa frustrasi dengan situasi ini. Dia menyebut perlakuan ini sebagai pelecehan yang dilakukan oleh kota itu.

“Katakan pada saya ke mana harus pergi? Kenapa saya harus keluar dari Monfalcone? Saya tinggal di sini dan membayar pajak di sini!” keluh Haq, seperti dikutip dari AFP.

Sepertiga penduduk Monfalcone merupakan imigran. Mereka kebanyakan berasal dari Bangladesh yang datang pada akhir 1990-an untuk bekerja di galangan kapal Fincantieri, Italia.

Wali Kota Monfalcone, Anna Cisint, berpendapat bahwa pembatasan beribadah bukanlah soal diskriminasi, melainkan masalah zonasi.

Sebagai wali kota di negara sekuler, dia menyatakan bahwa bukan tugasnya untuk menyediakan tempat ibadah.

Meskipun begitu, dia mengungkapkan kekhawatiran atas jumlah imigran Muslim yang dianggapnya terlalu banyak bagi kota Monfalcone.

Partai Liga anti-imigran yang dipimpin Matteo Salvini, bagian dari pemerintahan koalisi Perdana Menteri Giorgia Meloni, juga mendukung Cisint.

Selama beberapa dekade, partai ini telah menghalangi pembukaan masjid di Italia utara dengan dalih mayoritas penduduknya adalah Katolik.

Islam tidak termasuk dalam 13 agama yang memiliki status resmi berdasarkan hukum Italia. Hal itu mempersulit upaya pembangunan masjid.

Saat ini, hanya terdapat kurang dari 10 masjid yang diakui secara resmi di Italia. Di Monfalcone, umat Muslim merasakan ketidakpercayaan dan bahkan kebencian dari sebagian warga lokal.

Pengadilan administratif di Trieste akan memutuskan pada 23 Mei apakah akan menegakkan atau membatalkan larangan wali kota terhadap beribadah di pusat kebudayaan.

Meskipun demikian, kekhawatiran akan tetap ada, baik jika mereka menang atau kalah dalam pengadilan. Sebab, Cisint secara aktif mempromosikan bukunya, Sudah Cukup: Imigrasi, Islamisasi, Penyerahan, dan mengimbau bahwa situasi Monfalcone dapat ditiru di tempat lain.[]

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »