Lelaki yang punya nama lengkap Henky Eko Sriyantono atau yang akrab dipanggil Cak Eko satu dari sekian banyak orang yang pernah gagal menjalani bisnis. Tak tanggung-tanggung, sepuluh kali gagal, ia tetap jalan terus hingga akhirnya menemukan kerajaan bisnisnya yaitu Bakso Malang Kota ”Cak Eko”.
Berkali-kali gagal, tak membuat lelaki kelahiran Surabaya ini ciut nyali dalam menjalankan bisnis. Ia seperti menemukan titik terang saat memilih menekuni usaha bakso malang. Kini Cak Eko telah memiliki 106 gerai yang tersebar di 28 kota di Indonesia.
Kurun waktu tiga tahun Bakso Malang Kota “Cak Eko” telah merambah di 28 kota di Indonesia dengan jumlah gerai mencapai ratusan. Sejak diwaralabakan September 2006 kini Cak Eko telah memiliki 106 gerai, terdiri 3 gerai milik sendiri serta 103 cabang yang dikelola para franchisee Cak Eko.
Ada segudang pengalaman ketika Cak Eko menjajal berbagai jenis bisnis. Ia mengawali bisnis karena alasan kepepet ekonomi yang serba pas-pasan di tahun 1997 setelah lulus dari Teknik Sipil ITS 1996.
Usai lulus, ia merantau ke Jakarta. Ia sempat bekerja di perusahaan kontraktor di Surabaya kurang lebih setahun. Saat itu ia sebenarnya masih berkeinginan menjadi karyawan. Namun alur nasib menentukan lain, krisis ekonomi memaksanya untuk segera berubah haluan.
Pertama, jualan handphone second ia lakoni dengan modal dari sisa uang simpanan. Meski pada awalnya menguntungkan, tetapi akhirnya usaha ini tak kuat bertahan karena pemain baru mulai banyak bermunculan. Tahun berikutnya, ia beralih ke bisnis MLM, namun gagal. Alasannya, ia merasa tidak cocok jika harus melakukan pemasaran secara door to door guna menjaring anggota.
Tak menyerah begitu saja. Tahun 1999, Cak Eko berkenalan dengan orang Sukabumi, darinya banyak cerita tentang prospek menanam jahe gajah. Merasa tertarik, ia mengumpulkan modal patungan sebesar Rp 6 juta untuk sewa lahan seluas 3 ha dengan sistem tanam bagi hasil. Saat itu ia berharap setelah panen, hasilnya untuk biaya nikah dan beli mobil bekas.
Ketika panen tiba, hasilnya jauh dari yang diharapkan. Pasalnya harga jual turun, rimpangnya pun kecil-kecil. Alih-alih mendapatkan untung besar, untuk dipasarkan dengan harga normal pasaran saja tidak bisa. Akhirnya hasil panen jahe terpaksa dijual murah.
Kantong boleh kempes, tapi nikah tetap jalan. Tahun 2000, dengan segala keterbatasan, ia menikah di Surabaya. Beberapa hari setelah pernikahan, istrinya langsung diboyong ke kos-kosan yang sudah dipersiapkan di Jakarta. Tempat yang sangat sederhana dan tidak ada perabot apapun. ”Uang sisa-sisa sumbangan pernikahan saya gunakan untuk membeli sebuah kasur dan beberapa perlengkapan lain,” kisahnya.
Dalam posisi yang serba sulit dan terjepit itulah adrenalin Cak Eko naik. Keinginannya untuk berbisnis muncul kembali. Berbagai informasi dan peluang kerja ia unduh dari internet.
Suatu hari, ia mengirimkan sebuah artikel teknik ke Jepang. Dengan berbekal kemampuan menulis dan didukung dengan nekad mengirimkan abstraksi makalah dan berhasil. ”Abstraksi naskah saya diterima dan saya berkesempatan jalan-jalan gratis ke Jepang,” katanya.
Dari perjalanan itu ia mendapat sisa uang sebesar Rp 13 juta. Ia pun akhirnya memilih bisnis tas dan dompet kulit produksi Tanggulangin Sidoarjo. Bisnis berjalan lancar. Barang yang ia datangkan dari Tanggulangin ia sebar ke butik-butik di Jakarta.
Yang menjadi persoalan adalah pembayaran dari butik-butik tersebut tidak selancar yang diharapkan. Sistem konsinyasi yang diterapkan tidak mendukung kelancaran cash flow. Banyak tagihan yang tertunda hingga membuatnya kesulitan memutar uang.
Setelah satu tahun berjalan, ia memutuskan berhenti bisnis. Barang-barang yang berada di butik pun ia tarik semuanya dan dibawa pulang kerumah untuk dibagi-bagikan kepada keluarga. Alih-alih mendapat untung, modal usaha sebesar 13 juta pun amblas.
Tahun 2001 ia mulai bisnis busana muslim. Dengan modal Rp 5 juta ia pun menjalaninya. Saat itu ia memilih pasar Tanah Abang Jakarta sebagai tempat kulakan dan kota Surabaya menjadi tujuan untuk memasarkan barang. “Bisnis saya berkembang pesat dengan tingkat keuntungan mencapai 100%. Kala itu saya tidak mengambil keuntungan usaha untuk keperluan konsumtif. Keuntungan yang saya dapat saya tambahkan lagi sebagai modal hingga akhirnya aset yang saya miliki makin berkembang.”
Tak lama, banyak orang meniru bisnis ini dan kompetitor mulai bermunculan dengan harga yang lebih murah. Hingga akhirnya omset bisnisnya turun drastis. ”Setelah saya jalani selama 1 ½ tahun, walaupun tidak rugi total, saya memutuskan untuk berhenti dan beralih ke bisnis kerajinan tangan (handy craft),” terangnya.
Lagi-lagi persoalannya semua hanya bersedia menerima barang dengan sistem konsinyasi. Kesulitan cash flow kembali terulang. Setelah berjalan 6 bulan bisnis kerajinan tangan ini pun gulung tikar.
Tak menyerah, awal tahun 2003 ia kembali bangkit berbisnis. Kali ini ia menggeluti bisnis catering rumahan di perumahan Vila Nusa Indah II tempat tinggalnya. Awalnya bisnis ini berprospek bagus, namun kompetitor membuat bisnis ini harus membuat inovasi baru.
Tahun 2004, ia tertarik dengan produk franchise makanan ringan sejenis crispy. Dengan modal Rp 5 juta. Tiga bulan pertama, omset mencapai Rp 250.000/hari. Namun setelah ramai tiga bulan, bulan-bulan selanjutnya omset turun drastis. Untuk mengatasi hal tersebut maka ia putuskan pindah ke lokasi lain. ”Di tempat baru begitu juga awalnya ramai lalu sepi,” katanya.
Selama satu tahun 2005 ia banyak belajar dan mengamati berbagai jenis usaha franchise yang sudah ada. Obsesinya satu, memiliki waralaba bisnis makanan pun terus berkobar. Hingga akhirnya tahun 2005 menjelang Ramadhan, pada saat mengantar saudara ke stasiun Gambir dan bandara Soekarno-Hatta, ia tertarik melihat sebuah rumah makan bakso yang selalu ramai dikunjungi pembeli.
”Saya segera belajar dari juru masak bakso yang dikenalkan oleh kerabat dekat. Di Jakarta langsung saya eksperimen selama 3 bulan dengan menggabungkan resep-resep yang saya cari dari berbagai sumber. Tujuannya mendapatkan resep bakso yang khas dan memiliki cita rasa yang tinggi,” ujarnya.
Akhirnya kerja kerasnya tak sia-sia. Formula spesial bakso Malang pun berhasil ia temukan. Setelah yakin, ia memulai bisnis di daerah Jatiwarna Bekasi di sebuah pujasera dengan sistem bagi hasil, namanya pun bernama Bakso Malang Kota ”Cak Eko”.
Pengahrgaan Bergulir
- Pemilik dan Pendiri Waralaba Bakmi Jawa Jogya Mbah Tarmo (2009).
- Pemenang IWirausaha Muda Mandiri kategori Mahasiswa Program Pascasarjana dan Alumni (2008).
- The Best in Business Prospect Indonesia Franchise (2008).
- Pernenang I Bisnis Indonesia Young Entrepreneur Award (2008).
- Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award dari Menkop & UKM (2007).
- Indonesian Innovative Creative Award 2007 dari Menteri Koperasi & UKM, Menakertrans & Menperin (2007).
Tips Usaha
Ada tips untuk masyarakat yang ingin sukses seperti Cak Eko dalam hal penciptaan atau inovasi terbaru. Tipsnya adalah :
- Berani memulai
- Mempunyai keyakinan yang kuat untuk sukses
- Jeli melihat peluang
- Menciptakan merek usaha yang unik
- Memodifikasi produk sesuai keinginan pasar
- Terlibat secara langsung dari awal proses usaha


