JAKARTA-SM. Generasi Muslim tidak perlu malu menjadi pengurus masjid, terlebih latar belakangnya alumni Universitas Islam Negeri (UIN) atau perguruan tinggi Islam lainnya. Jika ikhlas, pengurus masjid adalah orang-orang yang mendapatkan peringkat tertinggi di hadapan Allah SWT.
Ketua Bidang Sarana, Hukum, dan Waqaf Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP-DMI), Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi dalam acara seminar bertema Program Pendampingan Sertifikasi Tanah Wakaf Masjid & Mushola, dan Pelatihan Keuangan Masjid & Program Pelayanan Masyarakat mengatakan, pengurus masjid ialah orang yang mendapatkan peringkat tertinggi di hadapan Allah. “Ummat Islam harus berani dan tidak malu menjadi pengurus masjid,” jelasnya.
Kegiatan ini diselenggarakan di masjid Al-Ikhlas Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel) pada Sabtu (5/12) oleh Pimpinan Daerah (PD) DMI Kota Administratif (Kotif) Jaksel bekerjasama dengan Pimpinan Pusat (PP) DMI, Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Pemerintah Kotif Jaksel.
“Bagi umat Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah mahdah, tetapi juga sebagai community centre, pusat aktivitas masyarakat, dan pelayanan publik. Bahkan raja atau penguasa di Saudi Arabia memilih gelar Pelayan Dua Tempat Suci/ Khadimul Haramain di Mekah dan Madinah,” tutur Natsir.
Menurutnya, umat Islam patut bersyukur tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena negara telah mengesahkan beberapa Undang-Undang (UU) yang sesuai dengan syari’at Islam. Seperti UU Waqaf, UU Jaminan Produk Halal (JPH), UU Perkawinan, UU Perbankan Syari’ah, dan UU Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), serta UU Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH).
Terkait program percepatan sertifikasi waqaf masjid, Natsir Zubaidi menyatakan bahwa 70 persen lahan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) belum ditentukan areanya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.
“Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah dalam penentuan klaim hak atas tanah waqaf masjid. Hal terpenting, jangan sampai umat Islam yang mayoritas di Jakarta ini semakin terpinggirkan dari waktu ke waktu,” jelasnya. [fathur-dmi]
