SUARAMASJID.com| Jakarta–Di Indonesia, penyesatan akidah selama ini dilakukan oleh aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Mosadeq, Gafatar dan munculnya nabi-nabi palsu lainnya. Inilah salah satu tantangan dakwah Islam Wasatiyah menghadapi gerakan-gerakan penyesatan dalam akidah.
“Aliran sesat ini harus diluruskan,” ungkap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Ma’ruf Amin dalam pembukaan Rakornas Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Pusat, di kawasan TMII, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
Tantangan kedua, lanjut Kyai Ma’ruf adalah penyesatan dalam berpikir. Ini dibagi menjadi dua, pemikiran yang tekstualis dan liberalis.
“Yang tekstualis, Khilafah ya khilafah. Nggak boleh berubah. Nggak ada perubahan hukum karena perubahan tempat dan massa,” katanya memberi contoh.
Sebaliknya, lanjut Rais Aam PBNU ini, kelompok liberalis yang menyatakan semua hal bisa berubah. “Semua bisa diawut-awut. Agama kayak adonan saja,” ungkap Kyai Ma’ruf.
Menurut Kyai Ma’ruf, yang tepat adalah jalan tengah. Ada ajaran yang bersifat tetap, ada pula yang bisa berubah.
Kyai Ma’ruf juga menyinggung soal gerakan radikal. Menurutnya ada radikal agama yang tidak memiliki komitmen kebangsaan dan beragamaan. Gerakan ini, kata dia, bisa melakukan tindakan teror.
Sebaliknya, ada pula gerakan radikal sekuler yang mendelegitimasi agama. Menurut gerakan ini, agama tidak boleh dekat-dekat dengan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Agama mereka letakkan di masjid saja.
“Padahal politik, ekonomi, sosial, budaya tanpa agama akan jadi tindakan menyimpang. Ini jadi masalah,” tandas Kyai Ma’ruf.
Kyai Ma’ruf lantas mengutip sebuah pendapat dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. “Telah melemah jiwa keagamaan dalam jiwa politik Indonesia bahkan akhir-akhir ini hampir mati.”
“Kalau dulu saja hampir mati, sekarang jangan-jangan sudah mati?. Kalau politik tidak dijiwai agama akan melakukan tindakan menyimpang, menghalalkan segala cara,” pungkasnya.[FR]
