Masjid Raya Al-Mashun Medan, Warisan Megah Kesultanan Deli

Salma Alya
4 Min Read
dok. mozaik.inilah.com

Terik matahari siang tidak menyurutkan langkah ratusan jemaah yang berbondong-bondong menuju Masjid Raya Al-Mashun di Kota Medan, Sumatera Utara. Suara azan yang menggema di tengah kesibukan kota menjadi penanda bagi umat Islam untuk menunaikan salat Jumat di salah satu bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Deli tersebut.

Pada Jumat (9/10/2026), kunjungan ke masjid ini bukan sekadar kesempatan untuk mengagumi arsitektur berusia lebih dari satu abad. Suasana ibadah yang berlangsung khusyuk menghadirkan pengalaman tersendiri, memperlihatkan bahwa Masjid Raya Al-Mashun bukan hanya destinasi wisata religi, tetapi juga bagian hidup dari keseharian masyarakat Medan.

Suasana Salat Jumat yang Penuh Kekhusyukan

Rangkaian salat Jumat di masjid ini berlangsung tertib. Azan pertama berkumandang sebagai penanda waktu, kemudian azan kembali terdengar ketika khatib naik ke mimbar. Jemaah memenuhi ruang utama hingga selasar masjid, menyimak khotbah sebelum berdiri dan merapatkan saf saat iqamah dikumandangkan.

Gerakan rukuk dan sujud berlangsung serempak, sementara lantunan imam menggema di bawah kubah. Keteraturan ibadah tersebut menciptakan suasana khusyuk yang berpadu dengan karakter bangunan masjid.

Pengalaman ini mengingatkan pada suasana ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, terutama melalui tradisi dua kali azan dan keteraturan saf. Meski begitu, Masjid Raya Al-Mashun memiliki identitas tersendiri berkat sejarah panjang dan perpaduan arsitekturnya.

Warisan Kesultanan Deli yang Bertahan Lebih dari Seabad

Masjid Raya Al-Mashun mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 dan digunakan pada 1909, ketika Kesultanan Deli berada di bawah pemerintahan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah.

Pada masa awal berdirinya, masjid ini menjadi bagian penting dari lingkungan Kesultanan Deli. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kehidupan keagamaan dan kebudayaan masyarakat Melayu di Medan.

Kini, bangunan bersejarah tersebut tetap menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus destinasi bagi wisatawan yang ingin mengenal perjalanan sejarah Kota Medan.

Perpaduan Arsitektur yang Memikat

Salah satu daya tarik utama masjid ini terletak pada bentuk bangunannya yang berbeda dari masjid dengan denah persegi pada umumnya. Masjid Raya Al-Mashun memiliki denah dasar segi delapan dengan komposisi yang simetris. Kubah bergaya Moor dan hiasan bulan sabit di puncaknya menambah kesan anggun.

Perpaduan unsur arsitektur Timur Tengah, Eropa, dan Asia memberikan karakter unik pada bangunan ini. Detail dekoratif, pengolahan ruang, serta ornamen yang menghiasi bagian interior memperlihatkan pertemuan berbagai pengaruh budaya dalam satu karya arsitektur.

Pilar Marmer dan Lampu Gantung Bersejarah

Saat memasuki ruang utama, pengunjung dapat melihat pilar-pilar marmer yang memperkuat kesan megah. Ornamen bermotif bunga dan tumbuh-tumbuhan menghiasi dinding serta plafon, menciptakan suasana artistik tanpa mengurangi fungsi utama ruang sebagai tempat beribadah.

Lampu gantung bergaya klasik yang disebut didatangkan dari Prancis turut memperkuat nuansa historis masjid. Berbagai detail tersebut menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengamati kekayaan seni dan arsitektur peninggalan masa lalu.

Destinasi Religi sekaligus Wisata Sejarah

Masjid Raya Al-Mashun membuktikan bahwa warisan sejarah dapat tetap relevan ketika terus digunakan dan dirawat. Jemaah datang untuk beribadah, sementara wisatawan berkunjung untuk menikmati keindahan bangunan dan mengenal sejarah Kesultanan Deli.

Lebih dari sekadar bangunan tua, masjid ini menjadi ruang pertemuan antara spiritualitas, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Berkunjung ke Masjid Raya Al-Mashun bukan hanya perjalanan religi, melainkan juga kesempatan menyusuri jejak sejarah yang masih berdenyut di tengah Kota Medan.

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »