BANDA ACEH, SM–Pengurus Balee Inong Bungong Keumang yang menaungi kaum ibu di Gampong Ceurih, Pango Raya dan Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng menggelar sosialisasi bahaya pornografi dan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Meunasah Gampong Ceurih. Sebagai pembicara utama, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal.
Dalam materinya, Illiza menyebutkan seiring dengan perkembangan zaman, percampuran antara hal-hal yang haq dan bathil semakin nyata terjadi. “Kita semakin sulit membedakan mana yang haq dan mana yang bukan. Seharusnya, penerapan Syariat Islam di Aceh menjadi rahmat yang begitu berharga bagi kita semua,” kata Illiza, sebagaimana dilaporkan DataRiau, Jum’at (25/3).
Mengenai maraknya gerakan LGBT akhir-akhir ini, Illiza menyebutkan fenomena itu sebenarnya bukan hal yang baru. “Sejak zaman Nabi Luth ‘alaihis sallam sudah ada kaum yang melakukan hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki, dan kaum itu dilaknat oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala,” terangnya.
Untuk menangkal budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan Syariat Islam, Illiza menyebut keluarga memegang peranan yang sangat penting. “Perlu kontrol dari orangtua terhadap anak, mulai dari tontonan TV, film, lagu, hingga pergaulan mereka sehari-hari. Amati perilaku anak-anak kita, jika ada gelagat yang tak biasa orangtua harus cepat tanggap,” pesannya.
Illiza menambahkan, penggunaan gadget tanpa kontrol oleh anak usia dini juga sangat berbahaya. Mirisnya lagi, kini banyak orangtua yang ‘melalaikan’ anaknya dengan gadget. “Jika anak kita ‘besar’ dengan gadget, maka masa depannya akan rusak. Perhatian, pendidikan, dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah dan ibu di rumah haruslah seimbang,” terangnya lagi.
“Kalau daerah kita tidak menerapkan Syariat Islam, tak dapat kita bayangkan bagaimana degradasi moral generasi muda kita hari ini. Saya harap, mulai saat ini mari kita berikan waktu yang berkualitas bagi anak-anak kita. Matikan TV dan hidupkan rumah kita dengan mengaji bersama ba’da Magrib. Allah tak meminta kita mendidik anak menjadi insyiur atau professor, tapi anak yang saleh dan saleha,” pungkas Illiza.
