SM| Jakarta–Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Fatayat Nahdlatul Ulama Mesir tahun ini mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Fatayat untuk pertama kalinya di negara tersebut. Oleh karena perdana, maka untuk sementara waktu kegiatan TPQ digelar setiap Sabtu mulai pukul 15.00 hingga 17.00 waktu setempat.
Usai rapat untuk menampung usulan, lanjut dia, secara kebetulan ada temannya asal Lumajang Jawa Timur yang pulang ke Indonesia. Oleh orang tua Habibah, peralatan dan bahan ajar untuk TPQ dititipkan kepada teman tersebut yang akan kembali ke Mesir.
Mnurut Ketua Fatayat NU Mesir yang baru dilantik 7 Februari 2019 ini, TPQ yang dirintisnya baru berjalan sekitar satu bulan. Setidaknya 14 anak di daerah Hay Asyir, pinggiran kota Kairo, terdaftar sebagai anak didik di TPQ tersebut. Angka itu menurutnya sudah cukup lumayan untuk anak-anak Indonesia yang ada di Negeri Kinanah ini.
“Karena faktor jarak yang lumayan jauh, beberapa ibu di grup Fatayat menginginkan ada cabang darrasah. Namun, tenaga pengajar belum mumpuni. Insya Allah, ke depan akan ada jemputan menggunakan mobil milik NU untuk memudahkan mereka belajar Al-Quran. Semoga terealisasi,” harap mahasiswi Jurusan Akidah Falsafah, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Kairo ini.
Soal cara yang digunakan, gadis kelahiran Gresik, 11 September 1996, ini menyebut TPQ yang ia kelola bersama timnya menggunakan metode Tilawati. “Kebetulan saya lulusan Tilawati dan sudah punya syahadah mengajar. Jadi sementara ini yang saya ingin realisasikan. Kalau memang ke depan ibu-ibu kurang cocok dan ada usulan tambahan, maka bisa diperbaiki,” tandasnya. [fr]
