Perguruan Tinggi Harus Lebih Terbuka dengan Pesantren

redaksi
2 Min Read

SUARAMASJID.com| Mojokerto –Pertemuan para ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh di Pacet, Mojokerto pada 23 R. Tsani 1438/ 21 Januari 2017 melibatkan banyak tokoh. Pertemuan ini telah menggerus perbedaan antar umat Islam dan lebih mengedepankan persatuan.

Menurut Dr KH Fauzi Tidjani, diskusi yang berlangsung sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yang keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan dan kebangsaannya.

“Saya merasakan suasana kebatinan yang luar biasa dahsyat, ada energi yg sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.

Kiai Fauzi merasa ada sinergi yang mulai dibangun dan dirancang hingga menembus batas sekat golongan dalam tubuh umat Islam, “Tidak ada sekat ormas, sekat salaf modern, dll. Semuanya berbicara ke depan untuk umat dan bangsa, untuk Indonesia,” jelasnya.

Prof Dr Bisri, yang juga Rektor Universitas Brawijaya Malang mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren.

“Akses pesantren kepada perguruan tinggi harus dibuka, SDM pesantren rata-rata lebih unggul. Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil,” katanya.

Sementara itu, Prof Dr Muhammad Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensi besar jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis maka selamanya umat Islam akan kalah. Ia juga menandaskan lagi perlunya sinergi perguruan tinggi dengan pesantren hukumnya adalah wajib. Karena itu, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. “Salah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri,” katanya. [FR]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »