[REVIEW] Masjid Al-Anwar Ada Sejak 1839, Markas Pejuang Melawan Penjajah di Lampung

redaksi
5 Min Read

SUARA MASJID | Lampung–Masjid Jami Al-Anwar di Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung merupakan masjid tertua di Lampung. Selain dikenal sebagai masjid tertua, masjid dengan luas 6.500 meter ini memiliki koleksi kitab kuning dan buku-buku pengetahuan berbahasa Belanda berusia ratusan tahun.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung telah menetapkan masjid ini sebagai masjid tertua dan bersejarah di Bandarlampung. Hal ini tertuang di dalam SK Nomor: Wh/2/SK/147/1997.

kitab kuno masjid al anwar

Masjid Jami Al-Anwar yang berada di Jalan Laksamana Malahayati, Kelurahan Kangkung, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung ini sudah ada sejak 1839. Awalnya hanya berupa surau atau langgar kecil. Kemudian direnovasi, termasuk ketika rusak berat saat Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda meletus dahsyat pada 1883.

Peninggalan bersejarah tersebut diantaranya dua buah meriam besi yang masih terpajang di bagian depan halaman masjid, peninggalan bersejarah lainnya yakni kitab kuning berbagai bahasa seperti Arab, Belanda, Portugis, dan beberapa bahasa lain dan buku-buku ilmu pengetahuan berbahasa Belanda berusia ratusan tahun.

Meski telah termakan usia, kitab kuning berbagai bahasa dan buku-buku bersejarah tersebut masih tersimpan rapi di perpustakaan masjid.

meriam masjid al anwar

Rusdi, salah seorang pengurus Masjid Jami Al-Anwar mengatakan, masjid ini tertua Jami Al-Anwar sudah berdiri sebelum Gunung Krakatau meletus pada 26 – 27 Agustus 1883.

“Masjid ini sudah ada sebelum Gunung Krakatau meletus. Gunung Krakatau kan meletusnya tahun 1883, masjid ini sudah ada sejak tahun 1839, tetapi saat itu awalnya masih berbentuk surau,” kata Rusdi dilansir BeritaSatu beberapa waktu lalu.

Rusdi menceritakan, pada era tahun 1883, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gudang Lelang yang berada tidak jauh dari Masjid Jami Al-Anwar merupakan pelabuhan besar di pesisir Provinsi Lampung.

Para saudagar (pedagang) dari sejumlah daerah di Nusantara yang beragama muslim mendirikan surau yang menjadi cikal bakal Masjid Jami Al-Anwar untuk berkumpul dan beribadah. Kemudian Surau tersebut rusak parah akibat terkena dampak letusan Gunung Krakatau.

Lima tahun kemudian, seorang saudagar asal Sulawesi dari suku Bugis bernama Daeng Sawiji membangun kembali surau tersebut menjadi masjid yang sekarang dikenal dengan Masjid Jami Al-Anwar.

“Awal renovasi dilakukan lima tahun setelah Gunung Krakatau meletus, sekitar 1888, Daeng Sawiji bersama ulama dan masyarakat setempat mendirikan masjid yang lebih permanen pada tahun itu, lalu dilanjutkan renovasi, termasuk yang dilakukan pada 1972, dan terakhir pada 2015,” tutur Rusdi.

Rusdi mengungkapkan, saat renovasi masjid, enam tiang surau yang rusak tetap dipertahankan yang saat ini telah dibungkus dengan pilar beton. Enam tiang tersebut menggambarkan Rukun Iman.

“Pada 1972, renovasi dilakukan kembali dengan memperluas bangunan menjadi lebih besar karena jamaah yang datang saat salat Jumat dan hari-hari besar semakin banyak jumlahnya. Terakhir, perbaikan dan renovasi masjid ini dilakukan sekitar 2015 sampai 2016, yang diganti atap masjid, awalnya genting biasa menjadi seng baja,” ujarnya.

Setelah itu, masjid tersebut dinamakan Masjid Al-Anwar yang artinya bercahaya. Nama tersebut diharapkan masjid tersebut dapat menjadi sumber cahaya kehidupan yang dapat menerangi umat. Nama masjid itulah yang dipakai sampai sekarang.

Beberapa peninggalan yang masih ada adalah meriam Belanda, dulu sebelum ada sirine masjid seperti zaman sekarang, Meriam digunakan buat peringatan buka puasa. Kalau sekarang hanya dibuat pajangan. Lalu, ada beduk kecil, dari 1988 dan sumur tua sedalam 20 meter yang tetap digunakan sampai saat ini.

Rusdi mengungkapkan, Masjid Jami Al-Anwar bukan hanya menjadi masjid tertua di Lampung dan tempat bagi masyarakat untuk belajar mengaji sejak zaman dahulu, tetapi juga menjadi markas para pejuang kemerdekaan di Lampung. Masjid Jami Al-Anwar ini selalu menjadi tempat para pejuang kemerdekaan bersama dengan para ulama mengatur strategi perjuangan seusai shalat dan mengaji.

“Selama masa penjajahan kolonial, masjid ini sangat berperan penting. Masjid Jami Al-Anwar menjadi lokasi untuk berkumpul dan berdiskusi oleh para ulama dan masyarakat untuk menyusun strategi perjuangan,” kata Rusdi. [fat]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »