[REVIEW] Masjid At-Tin Sukabumi Dijuluki Masjid Sejuta Pemuda

redaksi
5 Min Read

Generasi tersebut, kata Sanusi, harus dipersiapkan, termasuk dari sisi spiritual. Karena itu, di At-Tin, mereka tak hanya bisa salat, tapi juga belajar bersama.

Dasar pemikiran Sanusi bersama kawan-kawannya, di era Nabi Muhammad, masjid simpul gerakan. Baik untuk belajar, bermuamalah, bahkan mengatur strategi perang.

Dalam konteks hari ini, ada kebutuhan umat untuk memanfaatkan masjid secara lebih luas. Sebagai contoh, untuk tempat istirahat atau bahkan sekadar mengisi ulang baterai ponsel. “Tapi, bagaimana bisa kalau jam 9 malam sudah dikunci,” tuturnya.

Di Masjid Sejuta Pemuda, siapa pun boleh menggunakan fasilitas selama bisa menjaga kesopanan. Bahkan, jika ada yang istirahat, marbot akan memberi bantal sampai kasur. Para marbot juga rata-rata punya latar pengalaman profesional. Peracik kopi suguhan jamaah, misalnya, pernah bekerja di kafe. Sanusi sendiri seorang sarjana lulusan manajemen yang bertugas mengurus keuangan.

“Karena yang namanya urus masjid itu harus profesional, masak kita kalah sama perusahaan,” jelasnya. Sanusi mengungkapkan, marbot mendapat pemasukan dari muamalah yang disediakan. Misalnya dalam kegiatan marbot camp yang diikuti banyak peserta, pihaknya menarik biaya yang sebagian disisihkan untuk marbot.

Di luar itu, kebutuhan sehari-hari marbot juga banyak dibantu dari donasi jamaah. Bahkan, makanan, minuman hingga camilan yang disuguhkan pengurus kepada jemaah dan marbot juga hampir seluruhnya sumbangan. “Ketika kita ngurus rumah-Nya, otomatis yang punya rumah (Allah) memperhatikan kita juga,” tegas Sanusi penuh keyakinan.

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »