[REVIEW] Masjid Jami Darussalam, Masjid Tertua di Majalengka

redaksi
4 Min Read

SUARA MASJID | Majalengka–Masjid Jami Darussalam yang terletak di Desa Karangsambung Kecamatan Kadipaten Majalngka ini ternyata masjid tertua di kota berjuluk Kota Angin ini. Ia dibangun sejak abad ke-14.

Menurut Wahdiyat (69), sesepuh Desa Karangsambung yang juga pengurus Masjid Jami Darussalam. Masjid ini memiliki arsitektur unik di hampir setiap sudutnya.

Dilihat dari luar, Masjid Darussalam tampak seperti pendopo dengan banyak tiang yang mengelilingi bagian luar masjid. Tampak, warna biru langit menjadi ciri Masjid Darussalam.

Renovasi pertama dilakukan tahun 1975 kemudian Tahun 1982, Tahun 2003 terakhir tahun 2018. Masjid tersebut kini diperlebar ke arah samping kiri dan kanan masing-masing 10 meter dan ke depan sekira 8 meter. Masjid aslinya hanya berukuran sekitar 10×12 meter.

Di dalam masjid ini memiliki tiga ruangan. Ruang pada sisi utara dan selatan merupakan ruang tambahan baru yang digunakan saat salat Jumat dan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.

“Kabarnya yang bikin masjid ini para wali. Katanya tiga masjid. Pertama membangun di Cirebon, kedua di Banten, ini yang ketiganya, mepet ke pagi dibangun dalam waktu semalam,” ujar Wahdiyat dilansir kabarcirebon.com.

Sementara ruang tengah atau ruang utama merupakan area asli Masjid Darussalam sejak pertama kali dibangun pada abad ke-14. Pada ruang utama inilah terdapat empat tiang (saka) yang salah satu kayunya terbuat dari bekas serpihan kayu atau bahasa Sundanya disebut tatal.

Salah satu yang unik adalah adanya pecahan-pecahan keramik kuno pada bagian dinding masjid seperti hiasan bangunan bersejarah di Cirebon. Pecahan keramik itu terpasang di dinding atas pintu tempat menyimpan benda-benda pusaka.

Ada pun area mihrab terbagi dua, yakni untuk imam dan mimbar. “Malah punya tiga tiang, terus ada tatal, serbuk kayu. Namanya juga wali, jadi dibikin lagi, jadi tiang,” ucapnya.

Yang menarik lainnya dari bangunan masjid ini adalah pada bagian kubah masjid. Kubah masjid terbuat dari genting dengan mustaka kubah pada bagian atasnya seperti masjid khas Jawa pada masa lalu.

Masjid ini juga memiliki sebuah sumur tua yang masih digunakan hingga saat ini. Sumur yang berada di utara masjid itu konon digunakan untuk bersuci pada masa lalu.

“Sumur enggak pernah kering, enggak ada lumpur. Enggak pernah disedot, dikuras. Yang lainnya suka kering, yang ini mah ada aja, disebutnya juga cai kahuripan (air kehidupan),” kata Wahdiyat.

Masjid Darussalam juga menyimpan beberapa pusaka bersejarah. Konon, pusaka-pusaka itu merupakan peninggalan pasukan Mataram hingga utusan Sunan Gunung Jati yang memilih menetap di wilayah itu. Pusaka-pusaka itu antara lain tombak, keris, bola besi, dan kursi. Benda-benda pusaka itu disimpan di ruang khusus di samping mihrab.

Salah satu peninggalan bersejarah yang masih dimanfaatkan adalah beduk dan kentongan. Konon, beduk dan kentongan itu dibuat pada saat para utusan Sunan Gunung Jati mensyiarkan Islam di Karangsambung.

Berdasarkan catatan sejarah Desa Karangsambung, Masjid Darussalam telah mengalami beberapa kali renovasi. Perbaikan terakhir berlangsung pada 2018. Kendati demikian, arsitektur ruang utama masjid hingga kubah masjid masih tetap dipertahankan keasliannya.

Masjid ini menjadi pemersatu warga beberapa darah yang tadinya kerap berseteru memperebutkan batas wilayah. Di antara utusan Sunan Gunung Jati yang kemudian menyebarkan Islam di Karangsambung adalah Ki Gedeng Sawit. [fro]

 

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »