SUARAMASJID.COM | Tradisi Makan Bareng di Pelataran Masjid Saat Hari Besar Islam. Di setiap penjuru Indonesia, masjid bukan hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya umat Islam. Salah satu tradisi yang masih bertahan dan bahkan semakin semarak dari tahun ke tahun adalah makan bareng di pelataran masjid saat perayaan hari besar Islam.
Tradisi ini menyiratkan lebih dari sekadar mengisi perut—ia menjadi lambang kuatnya ukhuwah Islamiyah dan wujud nyata keberkahan dalam kebersamaan.
Sejak masa Wali Songo, masjid telah menjalankan fungsi sosial yang sangat vital. Ia adalah ruang berkumpul, belajar, berdiskusi, dan berbagi. Fungsi ini terus diwariskan hingga sekarang. Di berbagai pelosok Nusantara, kegiatan makan bersama di halaman atau serambi masjid menjadi agenda yang dinanti, bukan hanya karena makanannya, tapi karena nilai-nilai sosial yang tumbuh bersamanya.
Aneka Tradisi Makan Bareng: Refleksi Budaya dan Kearifan Lokal
Beragam daerah memiliki tradisi unik masing-masing dalam melaksanakan makan bersama di masjid. Berikut ini beberapa contoh tradisi yang masih dilestarikan hingga kini:
1. Ngambeng (Wonoboyo, Jawa Tengah)
Tradisi ngambeng adalah bentuk selamatan atau makan bersama yang dilakukan pada momen-momen khusus seperti Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, atau menjelang Ramadan. Warga membawa makanan dari rumah masing-masing, kemudian disantap bersama-sama di pelataran masjid. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus memperkuat solidaritas antarjamaah.
2. Megibung (Denpasar, Bali)
Uniknya, di Masjid Baitul Makmur Denpasar, tradisi megibung dilaksanakan selama Ramadan. Jamaah duduk bersila berhadap-hadapan, menikmati nasi kebuli sapi yang disajikan memanjang di atas daun pisang. Suasana menjadi hangat dan akrab, didukung oleh sumbangan dari jamaah lokal maupun pendatang.
3. Jaburan dan Takjil (Berbagai Daerah)
Selama bulan Ramadan, jaburan adalah momen di mana warga secara sukarela membawa makanan ke masjid untuk disantap bersama setelah tarawih. Sementara itu, takjil menjadi bagian tak terpisahkan dari waktu berbuka. Biasanya disediakan oleh takmir masjid atau donatur sebagai bentuk amal dan syiar Islam.
4. Makan Bersama saat Idul Adha (Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah)
Di Desa Tieng, Dataran Tinggi Dieng, setelah salat Idul Adha, warga menggelar makan bersama di halaman masjid. Hidangan yang disiapkan berasal dari daging kurban yang diolah secara kolektif. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun, dan menjadi simbol keguyuban masyarakat.
Fungsi Sosial dari Tradisi Makan Bersama
Di balik kelezatan hidangan, terdapat beragam fungsi sosial dari kegiatan ini:
1. Menghidupkan Semangat Gotong Royong
Persiapan makanan melibatkan banyak pihak—ibu-ibu masak, pemuda menata tempat, anak-anak ikut membantu membungkus nasi. Semua bekerja sama tanpa pamrih.
2. Menumbuhkan Solidaritas Umat
Semua duduk sejajar, menikmati hidangan yang sama, tanpa membedakan status sosial. Inilah praktik nyata kesetaraan dalam Islam.
3. Sarana Dakwah yang Efektif
Kegiatan makan bersama sering didahului atau disertai dengan ceramah agama, zikir bersama, atau pembacaan shalawat. Makan bersama menjadi pintu masuk dakwah yang lembut dan menyentuh hati.
4. Menyambung Silaturahmi Antarwarga
Dalam kesibukan harian, warga kadang tak sempat saling menyapa. Tradisi ini menjadi jembatan untuk mempererat hubungan dan membangun komunitas yang harmonis.
Hidangan Khas: Kaya Rasa, Sarat Makna
Setiap momen makan bersama biasanya dilengkapi dengan hidangan khas yang mencerminkan kearifan lokal. Berikut ini beberapa contoh menu yang lazim disajikan:
1. Nasi Kebuli
Dikenal luas di berbagai daerah, terutama saat Idul Adha. Nasi berbumbu rempah khas Timur Tengah ini biasanya dimasak dengan daging kambing atau sapi. Rasanya gurih dan kaya aroma, cocok disantap beramai-ramai.
2. Bubur Asyura
Disajikan khusus pada tanggal 10 Muharram, terutama di Kalimantan Selatan. Bubur ini terdiri dari beras, santan, sayuran, kacang-kacangan, dan rempah yang beragam, melambangkan keberagaman dan kebersamaan.
3. Ayam Ingkung
Ayam kampung yang dimasak utuh dengan rempah Jawa ini sering muncul pada perayaan hari besar Islam. Disajikan sebagai simbol syukur dan keharmonisan antar jamaah di lingkungan masjid.
4. Nasi Tumpeng dan Nasi Liwet
Nasi berbentuk kerucut atau disajikan dalam baki panjang dengan lauk-pauk khas seperti ayam goreng, telur pindang, tempe, tahu, dan sayur urap. Umum dijumpai di Jawa dan Sunda, sering dihidangkan saat perayaan akbar Islam.
5. Sie Reuboh dan Kari Daging (Aceh)
Daging dimasak dengan bumbu asam dan rempah-rempah khas Aceh. Makanan ini biasa disajikan saat makmeugang, yaitu tradisi menjelang Ramadan dan Idul Adha di Aceh.
6. Kulfot (Maluku)
Makanan berbahan dasar santan, ampas sagu, kacang hijau, dan gula merah yang dibungkus daun pinang. Disajikan setahun sekali pada hari raya di masjid-masjid di Maluku.
7. Nasi Jaha (Sulawesi Utara)
Terbuat dari beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu. Makanan ini biasanya disajikan saat Idul Fitri dalam tradisi makan bersama umat Islam di Minahasa dan sekitarnya.
8. Pelengkap Tradisional
Hidangan pendamping seperti ikan asin, sambal, pepes, tempe orek, semur daging, sate, sayur dalca, dan lalapan juga menjadi pelengkap yang menyemarakkan suasana makan bersama.
Tradisi yang Harus Dijaga
Tradisi makan bersama di pelataran masjid saat hari besar Islam adalah warisan budaya Islam Nusantara yang sarat nilai. Ia memperkuat ukhuwah, menanamkan rasa syukur, mempererat relasi sosial, sekaligus menjadi media dakwah yang hangat dan inklusif.
Menjaga dan merevitalisasi tradisi ini adalah bentuk nyata mencintai budaya kita sendiri. Tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dikembangkan sesuai zaman—tanpa menghilangkan esensi kebersamaan dan keberkahannya.
Jika masjid terus menjadi pusat kegiatan sosial seperti ini, maka umat Islam akan tumbuh menjadi komunitas yang tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga dalam persaudaraan dan kepedulian.[]

