Suara Masjid | Bekasi — Pengelolaan masjid dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di tengah pesatnya transformasi digital, masjid tidak hanya diharapkan menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga mampu menjalankan fungsi pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta kegiatan kemasyarakatan.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pelatihan pengelolaan masjid bertama “Transformasi Masjid: Profesional, Digital, Dan Membudaya” yang diikuti sekitar 100 peserta dari wilayah Jatiasih maupun luar kota. Kegiatan dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional ini diselenggarakan kerjasama antara MWC NU Jatiasih, PC DMI Jatiasih dan BKMM Jatiasih berlokasi di Masjid Nurul Islam Kemang IFI Jatiasih pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ustadz H. Jamar Komarudin, Ketua DKM Nurul Islam yang juga Ketua Panitia Pelatihan menjelaskan, masih banyak pengelola masjid yang menjalankan sistem manajemen secara tradisional. Padahal, perkembangan pengelolaan masjid saat ini telah memasuki era digitalisasi atau yang disebut sebagai konsep masjid 5.0.
Menurutnya, perkembangan konsep pengelolaan masjid perlu terus didorong. Jika pada konsep awal atau masjid 1.0 pengelolaan lebih berfokus pada pilar ketaatan dan kegiatan ibadah, maka pada perkembangan berikutnya masjid mulai didorong untuk membangun kemandirian hingga beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
“Hari ini kita mencoba mengulas tentang digitalisasi masjid. Harapannya, pengelolaan masjid semakin tertata dan mampu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Salah satu hal mendasar yang perlu diperhatikan, lanjutnya, adalah tertib administrasi dan pengelolaan keuangan. Masjid diharapkan memiliki rekening resmi sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola yang lebih transparan dan profesional.
Selain itu, ia juga menyoroti masih adanya masjid yang belum terdaftar dalam Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama. Padahal, data dan registrasi menjadi salah satu aspek penting agar masjid dapat terhubung dengan berbagai program pembinaan maupun bantuan dari pemerintah.
“Masih ada masjid yang belum terdaftar sehingga belum bisa mendapatkan akses terhadap program bantuan dari instansi terkait. Karena itu, administrasi dan pendataan perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia berharap kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut dapat menambah khazanah keilmuan dan memberikan manfaat bagi pengelolaan masjid di lingkungan masing-masing.
Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Camat Jatiasih Dian Herdiana, A.P., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan pengelolaan masjid bukan sekadar kegiatan untuk meningkatkan kapasitas para pengurus masjid. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan masyarakat yang religius dan memiliki kehidupan sosial yang kuat.
Menurutnya, masjid memiliki fungsi yang luas. Selain sebagai tempat beribadah, masjid juga dapat menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan kemasyarakatan.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran dalam pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan kemasyarakatan. Semua itu dapat berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat,” ujarnya.
Sejalan dengan tema pelatihan, ia menekankan pentingnya pengelolaan masjid yang amanah, profesional, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Pengelolaan keuangan masjid, termasuk dana zakat, infak, dan sedekah, harus dijalankan berdasarkan prinsip akuntabilitas dan keterbukaan. Selain itu, para pengurus masjid juga perlu meningkatkan kemampuan manajerial agar pengelolaan program dapat dilakukan secara profesional.
Tidak kalah penting, masjid juga perlu beradaptasi dengan perkembangan digital. Pemanfaatan teknologi dapat membantu proses administrasi, pendataan jamaah, penyebaran informasi, hingga membangun transparansi dalam pengelolaan masjid.
“Semoga upaya ini dapat mewujudkan masyarakat Jatiasih yang semakin religius,” pungkasnya.
Kegiatan Diharapkan Berkelanjutan
Ketua Tanfidziyah MWCNU Jatiasih, H. Lukman Cecep, S.Kom mengapresiasi terselenggaranya kegiatan pelatihan manajemen masjid ini. Ia berharap pelatihan pengelolaan masjid tidak berhenti pada satu pertemuan, tetapi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Kegiatan pelatihan ini bagian dari rentetan kegiatan hari Santri Nasional yang diselenggarakan MWCNU Jatiasih. Dari 13 program yang menjadi agenda acara, 11 acara sudah terselenggara. Dan masih ada beberapa agenda acara yang akan digelar MWCNU Jatiasih.
“Melihat kegiatan ini, almarhum KH. Hasyim Asyari akan tersenyum senang. Semoga kegiatan ini bukan yang pertama dan dapat terus berlanjut,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PC DMI Jatiasih Ustadz H. Dimyati Uje menekankan pentingnya peran santri dan masyarakat dalam memakmurkan masjid. Menurutnya, santri memiliki peran sebagai penerang agama yang setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren dapat kembali ke tengah masyarakat untuk memberikan manfaat.
“Kita semua yang hadir dalam kegiatan ini adalah ahlul masjid karena kita memiliki semangat untuk memakmurkan masjid,” katanya.
Uje juga mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat kehadiran jamaah di masjid. Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan yang sederhana dengan menerapkan rumus 3D, yakni Data, Datangi, dan Doakan.
“Datangi tetangga yang belum ke masjid. Terus ajak dengan cara yang baik, lalu kita doakan Masyarakat,” ujarnya.
Pentingnya Pendataan Melalui SIMAS
Kepala KUA Jatiasih, Sulhan Ansori Parinduri, S.Hi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang diharapkan dapat memberikan warna positif bagi kehidupan masyarakat di Jatiasih. Sebelum membuka secara resmi kegiatan, Sulhan kembali mengingatkan pentingnya pendaftaran masjid dan musala melalui Sistem Informasi Masjid atau SIMAS Kementerian Agama.
Masjid dan musala yang belum terdaftar, kata dia, diharapkan segera melakukan registrasi. Pendataan tersebut menjadi salah satu persyaratan dalam berbagai program pembinaan maupun seleksi bantuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
“Bagi masjid dan musala yang belum terdaftar, diupayakan untuk segera terdaftar di SIMAS. Ke depan, data tersebut menjadi salah satu persyaratan dalam program bantuan,” ujarnya.
Setelah beberapa sambutan, acara dilanjutkan dengan pelatihan dengan narasumber pertama adalah H. Mokhammad Mahdum, MIDEc, Ak, CPA, Ph.D, yang tercantum sebagai pimpinan BAZNAS, Ketua LTMNU periode 2024–2026, serta Ketua Departemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) DMI Pusat.
Narasumber kedua, Dr. Ismail Hasyim, SH.I., S.Pd., M.Sos, merupakan Ketua DKM Masjid Agung Al Barkah periode 2018–2023, dosen, sekaligus praktisi manajemen masjid dan zakat, infak, sedekah, serta wakaf (ZISWAF). [fathur]
