SUARA MASJID | Banyumas–Menjaga warisan leluhur berupa artefak bangunan cagar budaya berupa Masjid Saka Tunggal Baitussalam, warga Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas selalu mengutamakan gotong royong. Masjid yang di tiang tunggalnya bercatatkan aksara Arab 1288 ini hingga kini masih terjaga keasliannya.
“Kalau dulu beratapkan ijuk, sekarang berganti seng dan asbes. Karena memang untuk menyesuaikan lingkungan. Kalau ijuk sering sekali rusak karena menjadi tempat bermain kera,” kata Suyitno, mantan Kepala Desa Cikakak yang turut aktif menjaga masjid dan tradisi masjid tersebut.
Lokasi masjid purba yang berada di bawah pegunungan hutan pinus dan hutan rakyat yang menjadi habitat kera ekor panjang menjadi tantangan tersendiri.
Taman Kera Cikakak, sebagaimana dikenal sebagai salah satu obyek wisata ini memang tak banyak perubahan dari tahun ke tahun.
“Dari dulu seperti ini. Yang penting kita berusaha hidup berdampingan dengan makhluk Tuhan ini. Kita selalu punya cara untuk menyesuaikan dan menjaga lingkungan terutama di tengah situasi kemarau saat ini,” jelasnya dilansir suaramerdeka.com.
Di tengah musim kemarau saat ini, perilaku hewan liar ini memang seringkali meresahkan warga. Seringkali banyak atap rumah warga dan hingga atap masjid yang rusak karena diinjak-injak oleh kera.
Sebagaimana diketahui, perbaikan masjid cagar budaya ini telah diketahui telah dilaksanakan dua kali yaitu di tahun 1965 di masa Kepala Desa Santori Radam.
Selanjutnya setelah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya, perbaikan masjid ini dilaksanakan pada tahun 2011 di masa pemerintahan Kepala Desa Suyitno.
Kini setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata, masjid inipun menjadi salah satu obyek wisata yang disajikan untuk pengunjung.
“Karena ini masjid cagar budaya, kami selalu berkoordinasi dengan pemerintah desa. Tetapi untuk perawatan rutin, tanpa mengubah bentuk asli dan bangunan lainnya tetap kita laksanakan,” kata Imam Purwanto, salah satu juru kunci kompleks Masjid Saka Tunggal dan Makam Kiai Mustolih tokoh misterius pendiri masjid tersebut.
Hingga kini tiang masjid, mimbar serta beduk masjid masjid masih terjaga dengan baik. Dipercaya bahan dari pembuatan tiang ini dibuat dari kayu sidaguri yang cukup besar.
Bagian batangnya bagian atas dijadikan tiang atau saka sedangkan bagian bawahnya dijadikan beduk. “Kita selalu punya cara dan hitungan dalam menabuh beduk ini. Penabuh beduk juga merupakan orang terpilih.
Sebagaimana juga pengumandang adzan Jumat yang berjumlah 3-4 orang,” jelas Sopani, mantan Juru Kunci yang masih turut mendampingi kegiatan masjid ini.
Berpegangan dengan Kalender Jawa Aboge, warga jamaah Masjid Saka Tunggal ini masih memegang tradisi Islam Jawa mulai dari Jaro Rojab (penggantian pagar masjid dan makam), Muludan, peringatan kelahiran nabi, Sadranan, Syawalan, ziarah kubur dan lainnya.
Semua dilaksanakan dengan gotong royong sebagaimana juga terus diwariskan kepada anak cucu mereka di setiap kegiatan. [fat]
