Penyengat, Pulau Kebanggaan Sastrawan Melayu

redaksi
5 Min Read

Pulau Penyengat, dari pulau kecil inilah, Gurindan Duabelas lahir dari tangan Raja Ali Haji. Pulau ini menjadi cikal bakal tata bahasa Melayu ditulis.

Tanpa pantai indah, tanpa bukit menawan, tapi pulau Penyengat mampu memikat wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama dari negeri-negeri jiran seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Timur Tengah, Australia, Belanda dan Amerika. Inilah lokasi wisata reliji yang menawarkan keheningan dan kebesaran masa lalu tentang Melayu.

Luas pulau ini tak seberapa, hanya 240 hektar. Lebarnya sekitar satu kilometer dengan panjang sekira dua kilometer. Penghuni pulai ini pun tidaklah banyak, 2.500 jiwa atau 450-an keluarga. Jangan pula bertanya hotel karena losmen pun tidak ada. Sarana transportasi teramat sederhana dan khas, bentor atawa becak yang disambung dengan motor. Tidak mengherankan jika suasana pulau ini begitu asri, damai, tenteram, nyaman dan penuh kesejukan. Yang ada di pulau ini tidak lain kesahajaan.

Tapi, di balik kesederhanaan itulah prestasi besar yang melintasi batas negara pernah terlahir dari pulau kecil ini. Di pulau mungil ini Gurindam Duabelas lahir dari tangan Raja Ali Haji. Dari sini pula cikal bakal tata bahasa Melayu ditulis, bahasa Melayu Riau dimurnikan dan pada akhirnya menjadi cikal bakal bahasa Indonesia yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1908. Di pulau ini pula pusat pemerintahan Kerajaan Melayu Lingga-Riau berdiri pada abad ke-18.

Pulau ini sejak awal dikenal sebagai mas kawin atau mahar Raja Riau-Lingga, Sultan Mahmud Syah kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah tahun 1801. Dalam perjalanannya, pulau ini dikenal sebagai taman para penulis atau pulau kaum cendekia. Aktivitas Kerajaan Riau-Lingga juga berlangsung di sini bersamaan dengan lahirnya penulis-penulis hebat di masa lalu. Kelahiran Bahasa Indonesia juga tidak bisa dilepas dari keberadaan pulau ini.

Nama Penyengat yang terkesan seram tentu memiliki asal muasal meskipun tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Dulu banyak pelaut yang datang ke sini ini untuk mengambil air minum. Saat itulah datang rombongan binatang semacam serangga yang memiliki sengat lalu menyengat pelaut ini hingga bengkak-bengkak. Binatang ini disebut penyengat. “Binatang itu sebesar kepalan tangan dan sembunyi di dalam tanah,” kata Haji Abdurrahman, seorang tokoh Penyengat yang dirilis jelajah.travel.

Pulau Penyengat terletak di bagian barat Pulau Bintan yang dipisahkan sebuah selat. Dari Batam, pulau ini berjarak sekitar 35 kilometer yang dapat ditempuh dengan perahu boat atau pompong selama kurang lebih 30 menit. Dari Pelabuhan Pinang Kota Tanjungpinang, pulau ini ditempuh dalam kurun 15 menit dengan ongkos Rp 5.000 sekali jalan. Dari Singapura, negeri ini tak begitu jauh karena hanya butuh maksimal dua jam perjalanan laut.

Begitu menapak tanah Pulau Penyengat, yang terasa adalah udara sejuk alami yang sejuk meski di siang hari. Semilir angina pantai membuat suasana makin tenteram. Apalagi ketika menatap Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Masjid yang dibangun pada tahun 1803 ini menjadi landmark dan simbol Pulau Penyengat. “Masjid ini banyak dikunjungi wisatawan Malaysia dan Singapura,” kata Abdul Jalil, seorang pengurus Masjid Raya Penyengat. Pada hari Jumat, jamaah masjid ini juga berasal dari Kota Tanjungpinang.

Yang menjadi landmark dari pulau ini adalah Masjid Raya Sultan Riau. Masjid ini berukuran 18 x 19,8 meter.  Berdiri diatas lahan seluas sekitar 55 x 33 meter . Keseluruhan bangunan masjid berwarna kuning.

Menurut cerita masyarakat, Sultan memerintahkan menggunakan putih telur untuk memperkuat dinding masjid. Sementara untuk warna menggunakan kuning telur. Tentu berton-ton telur digunakan untuk mengecat masjid ini agar tampak mencolok . Tapi kalau sekarang warna masjid yang berwarna kuning sudah menggunakan pelapis cat.

Pada bangunan masjid ini terdapat empat menara yang menghias kubahnya yang berbentuk seperti bawang. Ada dua bangunan kembar dikiri dan kanan depan masjid. Sementara di bagian belakang terdapat sejumlah makam keluarga Sultan. Pesona bangunan masjid ini juga terlihat dari kubah-kubahnya yang berjumlah 17 buah yang merepresentasikan jumlah rakaat shalat 5 waktu.

Masuk ke dalam masjid kita dapat melihat koleksi perpustakaan Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, yang Dipertuan Muda Riau X, mimbar khotib yang khas serta kitab-kitab kuno dan kitab suci Al-Quran bertulis tangan. Selain masjid, juga ada makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Haji, kompleks Istana kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. [FR]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »