[REVIEW] Masjid Beuracan, Masjid Tua Berusia 400 Tahun di Pidie Jaya

redaksi
5 Min Read

SUARA MASJID | Beuracan adalah sebuah pemukiman yang letaknya di pedalaman Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya yang membawahi 9 desa. Disini terletak sebuah masjid kuno yang hampir 400 tahun umurnya. Masjid ini terletak di pinggir Jalan Nasional Banda Aceh – Medan.

Masjid ini di prakarsai oleh teuku Abdussalim, ulama yang lebih di kenal dengan sebutan Teuku Di Pucok Krueng. Ia merupakan perantau dari negara Arab yang berasal dari Madinah dan merupakan seorang ulama yang menyebar agama Islam.

Masjid Beuracan di bangun pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dan langsung di pimpin oleh Teungku Abdussalim atau yang lebih terkenal pada waktu itu dengan sebutan Teuku Di Pucok Krueng. Sebutan itu mungkin karena ada sebuah sungai yang berdekatan dengan mesjid tersebut yang mulut sungai itu berasal dari gunung yang ada di pedalaman desa Beuracan dan ekor sungainya berakhir di muara desa Meureudu.

Pada mulanya Teungku Abdussalim mengadakan pengajian di pondok tempatnya tinggal, dan melaksanakan shalat berjamaah di sebuah pondok yang sempit bersama pengikutnya dan mesyarakat desa. Akan tetapi lama- kelamaan pengikutnya semakin bertambah dan gubuk tempatnya tinggal sudah tidak muat lagi untuk menampung orang-orang yang semakin hari semakin bertambah.

Pada tahun 1622 M. Teungku Abdussalim mulai berfikir untuk mendirikan sebuah masjid di desa Beuracan, beliau mengutarakan keinginan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di desa Beuracan. Mendengar Hal tersebut dari ulamanya semua masyarakat menyetujuinya dan mewakafkan tanahnya untuk berdirinya masjid.

Mesjid Beuracan dibangun di atas lahan yang luasnya sekitar 6 hektar dan di kelilingi oleh sawah yang sangat luas, Teungku Abdussalim membangun masjid tersebut sebagai pusat pengajaran Islam. Di samping pandai dalam bidang agama, teungku Abdusslim juga ahli dalam hal pertanian, Beliau mengajarkan bagai mana cara bercocok tanam pada masyarakat desa Beuracan. Apa lagi di desa tersebut memiliki sawah yang sangat luas, belum lagi lahan yang bisa di jadikan sebagai kebun yang sangat subur untuk bercocok tanam.

Kehidupan masyarakat Beuracan semenjak datangnya Teungku Abdussalim mulai membaik, baik dari segi ilmu agama islam maupun dari segi perekonomian. Masyarakat sudah sangat rajin bertani dan tidak ada lagi lahan tidur seperti sebelumnya, tanaman padi adalah sumber utama sebagai bahan pokok disamping itu juga di tanami tumbuhan-tumbuhan yang lain, ada tumbuhan tua dan ada juga tumbuhan muda.

Di dalam mesjid Beuracan ini terdapat peninggalan bersejarah yang sampai saat ini masih tersimpan rapi berupa Tongkat rotan yang seumuran masjid yang panjangnya 163 cm dan sebuah guci kuno tempat penampung air. Warga di sekitaran masjid Beuracan dan sekitarnya meyakini wadah penampung air itu memiliki kelebihan (Keramat) yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kalau meminum air yang ada di dalamnya.

Guci kuno tersebut dijaga oleh seorang Marbot yang di tunjuk oleh pimpinan mesjid karena air yang berada di dalam guci tersebut tidak boleh di ambil oleh sembarangan orang, apalagi kalau perempuan yang lagi datang bulan (haid) lagi pula hal ini di lakukan untuk menjaga kesucian guci kuno tersebut tetap berlanjut. Setiap pengambilan air dalam guci kuno tersebut penjaga tidak memungut biaya sepeserpun, tetapi banyak diantara mareka yang memberi atau memasukkan uangnya kedalam celengan yang berada di dekat guci tersebut sebagai sadakah.

Keunikan benda bersejarah yang berada di dalam mesjid tersebut sekarang sudah mengundang banyak wisatawan religi yang berkunjung ke mesjid Beuracan, malahan ada wisatawan dari manca negara yang berkunjung untuk mencari tau sejarah berdirinya masjid tersebut.

Di samping masjid kuno tersebut sekarang sudah ada bangunan sebuah masjid baru yang di bangun oleh pemerintah Pidie Jaya, bangunan tersebut terbuat dari beton dan bentuknyapun seperti masjid-masjid modern yang ada pada saat ini. Namun berdirinya masjid baru tersebut tidak mengusik bangunan mesjid yang dibangun oleh Tgk Abdussalim pada masa silam.

Pada tahun 2016 tepatnya tanggal 07 Desember pukul 05.03 Wib Pidie Jaya di landa bencana alam, yaitu gempa bumi yang berkekuatan tinggi, banyak bangunan yang terbuat dari beton yang roboh dan retak, termasuk salah satunya masjid baru yang berada di sisi bangunan masjid kuno Tgk Abdussalim.

Sementara masjid kuno kuno Tgk Abdussalim tetap berdiri kokoh seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena bangunan masjid itu terbuat dari kayu pilihan pada masa silam dan bentuknyapun sangan simpel karena semua tiangnya terbuat dari kayu-kayu pilihan pada masa dahulu.

Masjid kuno ini hingga kini masih terawat dan bersih, para pengunjung yang datang bisa menikmati ibadah di masjid ini. Untuk tetap menjaga kebersihan masjid ini, perlu peran serta Masyarakat atau organisasi untuk mengedukasi Masyarakat akan pentingnya kebersihan di lingkungan masjid.[]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »