SUARA MASJID | Surabaya–Kota Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan menyimpan banyak situs bersejarah. Hampir di setiap sudut kota ini terlihat simbol-simbol sejarah para pejuang dalam mengusir penjajah. Salah satunya Kampung Peneleh, sebuah perkampungan tua di Surabaya.
Selain menjadi simbol perlawanan penjajah pada masa itu, di perkampungan padat penduduk tempat lahirnya Bung Karno ini juga terdapat situs yang cukup tersohor, yaitu Masjid Jami Peneleh Surabaya yang berdiri kokoh di Jalan Peneleh V No.41, RW.03, Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur
Meski tidak ada literatur pasti mengenai sejarah berdirinya Masjid Jami Peneleh, namun masjid dengan artitektur kuno ini merupakan salah satu Masjid tertua di Kota Pahlawan.
Ketua Takmir Masjid Jami Peneleh, Sofyan, mengatakan berdasarkan cerita turun temurun, Masjid Peneleh merupakan salah satu masjid peninggalan Raden Rahmat atau Sunan Ampel, selain Masjid Rahmad dan Masjid Ampel sendiri.
Masjid yang dibangun sekitar abad ke-18 atau 1430 Masehi tersebut sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam di perkampungan Peneneh yang saat itu masyarakatnya beragam dan hidup damai.
Masjid seluas 999 meter persegi ini memiliki 10 tiang kayu jati yang menjulang tinggi menyambung bagian langit-langit masjid. Sepuluh tiang utama penyangga atap ini disebut Soko Guru yang melambangkan 10 malaikat Allah. Jika diperhatikan, arsitektur Masjid menyerupai perahu terbalik.
Masjid ini dikelilingi 25 ventilasi cantik dengan ukiran aksara Arab yang elok dan tertulis 25 nama Nabi. Lalu, ada aksen kayu berwarna cokelat. Kemudian, jendela berukuran besar khas era klasik pun masih mulus dan terlihat megah.
Di bagian dalam serambi masjid ini juga terdapat sumur tua dengan diameter sekitar 50 cm. Konon kabarnya, sumur itu terhubung ke sumur Masjid Ampel. Namun, saat ini sumur tersebut telah ditutup.
Keberadaan Masjid Peneleh ini tak lepas dari peran Sunan Ampel. Saat itu ceritanya, Sunan Ampel baru mengunjungi Kerajaan Majapahit atas jasanya membantu kerajaan, Sunan Ampel mendapatkan hadiah tanah di kawasan Ampel Denta. Sunan Ampel lalu menempuh perjalanan darat dari Trowulan, Mojokerto menyusuri sungai Brantas menuju Ampel Denta.
Ketika sampai di Surabaya, Sunan Ampel sempat singgah di Kembang Kuning. Di lokasi tersebut, Sunan Ampel bertemu dengan Ki Wirosuroyo atau dikenal Ki Bang Kuning. Di Kembang Kuning, Sunan Ampel membangun musala hanya waktu semalam.
“Dari Kembang Kuning Raden Rachmat melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di Peneleh beliau berhenti di sisi timur sungai Kalimas,” ujar Sufyan dilansir Detik.
Sunan Ampel berhenti, lantaran melihat di kawasan Peneleh sudah ada komunitas masyarakat muslim yang mendiami kawasan itu. Mereka terdiri dari umat Islam, Hindu, Budha, penganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
Saking penasarannya, Sunan Ampel sempat tinggal cukup lama di Peneleh. Bahkan dia juga ikut adu ayam atau sabung ayam dengan penduduk sekitar. Ayam Jago Sunan Ampel selalu menang saat diadu. Kemudian, masyarakat penasaran dan bertanya apa rahasia ayam jago Sunan Ampel selalu menang.
Dari situ kemudian Sunan Ampel mulai mengenalkan ajaran Islam kepada warga sekitar. Bahwa dengan doa, dan kehendak Allah semua bisa terjadi. “Lalu Sunan Ampel mengajak masyarakat setempat berkumpul, dan mengenalkan Islam di Peneleh. Tempat tersebut kemudian dibangun masjid dan menjadi Masjid Peneleh,” bebernya.
Kini, keberadaan Masjid Peneleh yang berada ditengah perkampungan padat penduduk ini menjadi penyangga keimanan umat Islam di tengah gempuran hedonisme masyarakat urban. Setiap hari, masjid selalu ramai aktifitas belajar mengajar keagamaan.[Fat]

