Wamenhaj, Dahnil: Puasa adalah Panggilan Romantis dari Allah

redaksi
4 Min Read

Suaramasjid.com | Jakarta–Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan ceramah penuh refleksi spiritual saat mengisi tausiyah Ramadhan di Masjid Cut Meutia Menteng Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026). Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah memaknai ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus, melainkan panggilan kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman.

Mengawali tausiyah dengan mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183, Dahnil menjelaskan bahwa perintah puasa diawali dengan seruan yang sangat khusus: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu” (Wahai orang-orang yang beriman). Menurutnya, panggilan tersebut menunjukkan kedekatan dan cinta Allah kepada hamba-Nya.

“Dalam banyak ayat, Allah memanggil dengan seruan ‘wahai manusia’ sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang luas (rahman). Namun ketika Allah menyebut ‘wahai orang-orang yang beriman’, itu adalah panggilan yang lebih intim, lebih romantis, penuh kasih sayang yang khusus (rahim),” ujar Dahnil di hadapan jamaah.

Ia mengutip pemaknaan puasa dari sufi besar Persia, Jalaluddin Rumi, yang menyebut puasa sebagai panggilan romantis Allah kepada umat beriman. Dalam pandangan Rumi, puasa bukan sekadar kewajiban, melainkan undangan spiritual untuk mendekat dan menyucikan diri.

Dahnil juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Menurutnya, hadis tersebut menjadi peringatan agar umat Islam tidak berhenti pada aspek biologis puasa semata.

“Kalau hanya menahan lapar dan dahaga, tanpa kesadaran spiritual dan perubahan moral, maka kita hanya mendapatkan lelahnya saja,” tegasnya.

Ia kemudian menyinggung karya monumental Rumi, Matsnawi. Dalam salah satu penggalannya, Rumi menulis tentang “menahan bibirmu dari haus dan lapar, dari makanan dan minuman, dan bergegaslah menyambut hidangan langit.” Dahnil menjelaskan bahwa “hidangan langit” yang dimaksud adalah limpahan rahmat, ampunan, dan pencerahan spiritual yang Allah sediakan selama Ramadhan.

“Ramadhan adalah momentum spiritualisme yang Allah siapkan khusus bagi orang-orang mukmin. Maka kita harus bergegas menyambutnya, jangan biasa-biasa saja,” katanya.

Lebih jauh, Dahnil menekankan bahwa ibadah dalam Islam memiliki dua dimensi: vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan dimensi horizontal menyangkut hubungan antarsesama manusia.

Kelaparan dalam puasa, menurutnya, memiliki dimensi spiritual vertikal karena menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Namun pada saat yang sama, kelaparan biologis yang dirasakan setiap hari selama Ramadhan mengajarkan empati sosial.

“Melalui rasa lapar itu, kita diajarkan merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari situ tumbuh empati, simpati, dan kedermawanan sosial,” ujar Dahnil.

Ia mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang merasakan lapar dan haus bukan karena ibadah, melainkan karena kemiskinan. Karena itu, hasil dari puasa seharusnya melahirkan kepedulian sosial yang nyata, baik dalam bentuk sedekah, zakat, maupun aksi-aksi solidaritas kemanusiaan.

“Kalau puasa tidak melahirkan empati dan kedermawanan sosial, maka ada yang kurang dari spiritualitas kita,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Dahnil juga menyinggung ibadah haji sebagai perbandingan reflektif. Ia menyebut bahwa sekitar 95 persen rangkaian ibadah haji bersifat fisik seperti berjalan, thawaf, sa’i, wukuf, namun tujuan akhirnya adalah kepuasan dan kedalaman spiritual.

“Ibadah haji adalah perjalanan fisik yang bermuara pada pengalaman spiritual, terutama ketika kita menziarahi tempat-tempat bersejarah yang sarat makna perjuangan para nabi,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjutnya, serupa dengan puasa. Secara lahiriah, puasa adalah aktivitas fisik menahan diri. Namun hakikatnya adalah pembentukan jiwa yang lebih bersih, lebih peka, dan lebih dekat kepada Allah.

“Ramadhan tidak datang setiap saat. Ini adalah kesempatan yang Allah berikan. Orang beriman harus bergegas memaksimalkan amalnya,” tuturnya.[]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »