Oleh KH Hasan Abdullah Sahal (Pengasuh Pondok Darussalam Gontor)
Kata-kata istighna’ dalam bahasa jawanya, berarti “ora butuh”. Merasa cukup, merasa kaya, merasa tidak memerlukan. Bila dikaitkan dengan surat Al-‘Alaq. Kadang orang membaca surat tersebut hanya sampai ayat kelima. Kalla (كلا) adalah peringatan, tanbih lima qablaha. I’lam! Inna insana layatgha. Merasa sudah tahu, sudah kaya, sehingga ndak butuh Allah, ndak butuh Rasul, ndak butuh bermasyarakat.
Bila pelatih sepak bola ingin mengambil pemain dari klub lain, dia harus menentukan bahwa ada istighnadari klub tempatnya dia bermain. Gontor, bila akan mengambil guru dari suatu madrasah, harus ada istighnadari madrasah tempatnya mengajar.
Sekarang, egoisme bangsa kita sudah sangat besar. Merasuk di seluruh aspek rakyat Indonesia, baik golongan atas, tengah, dan bawah. Banyak kejahatan yang muncul. Kejahatan apa yang belum ada di Indonesia? Pencurian bagasi, anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, bunuh diri satu keluarga, kemaksiatan merajalela dimana-mana.
Banyak orang mengaku kalau dia bermaksiat, seakan-akan itu adalah hal yang biasa. Al-mujahir, orang yang berterang-terangan dalam bermaksiat. Seorang artis untuk menjadi profesional, harus menanggalkan unsur agama. Agama hanya menjadi halangan bagi seorang artis untuk berperan dalam film secara maksimal.
Gunung Semeru, Bromo, Sinabung, Merapi meletus, banjir, kebakaran, tabrakan, longsor, menandakan bahwa alam sudah muak dengan kemaksiatan manusia. Namun, itu bukan tanda bahwa kiamat sudah dekat. Tanda-tanda kiamat masih jauh, selama asma Allah masih disebut oleh umat manusia. Dari tanda-tanda datangnya kiamat adalah tidak ada orang yang menyebut asma Allah, sama sekali. Karena kalah dengan fitnah Dajjal. Karena begitu besarnya maksiat. Hingga “ujug-ujug” matahari terbit dari barat. Kiamat akan muncul tiba-tiba, bakhtatan, sehingga tidak mungkin bagi umat manusia untuk bersiap dan bertaubat.
Jangan istighna’! Jangan merasa cukup dengan amalan kita! Jangan merasa tidak perlu bertaubat! Jangan merasa tidak butuh nasihat dan ceramah!
Kita benar-benar dijajah. Penjajahan sudah merambah ke pelosok-pelosok desa. Dengan HAM dan toleransi yang kebablasan, kita dipaksa untuk menanggalkan adat istiadat, sakral, sopan santun, dan agama. Ada Grand Design di belakang ini semua yang dikendarai oleh PKI, Yahudi, dan Zionisme.
Antara Saudi dan Syiah sedang memanas. Orang-orang Sunni sedang diawasi oleh Syiah. Syiah sudah berani menampakkan dirinya. Berhati-hatilah.
Buka mata, buka telinga, buka hati, sehingga tidak terseret kesana-kemari. Sehingga tidak istighna’.
Kullu ummati mu’afa illa mujahiriin.
Zaman sekarang; bila ada orang tua melihat gadis mengenakan pakaian minim. Pada zaman ini, yang diolok-olok adalah orang yang melihat, bukan si gadis.
Ketika ada seorang gadis cantik menaiki bis umum, namun dia berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Kemudian dipersilahkan duduk oleh salah seorang penumpang laki-laki. Bagaimana pandangan orang-orang, apakah mereka berburuk atau berbaik sangka?
Taufik Ismail, merasa berada di luar negeri ketika berjalan-jalan di salah satu pasar di Jakarta. Karena disana-sini tertulis bahasa asing. Merasa bahwa keagungan Bahasa Indonesia sudah tergerus dengan bahasa asing.
Jumlah manusia semakin banyak, sedangkan dunia tidak meluas, justru menyempit karena banyaknya manusia. Oleh karenanya, kamu harus punya keterampilan, punya keunggulan, punya kebanggaan, sehingga tidak kalah bersaing dengan yang lainnya. Jangan istighna’. Pembangunan Indonesia sedang gencar-gencarnya, pembangunan jembatan Anyer – Bakauheni, jalan trans Sumatera-Jawa. [Gontornews]
