[REVIEW] Inilah Tiga Masjid Peninggalan Sultan Serdang

redaksi
7 Min Read

SUARA MASJID | Generasi penerus bangsa harus belajar banyak dari kegigihan perjuangan Kesultanan Serdang, baik itu menggaungkan perlawanan yang deras kepada kolonial Belanda, sampai berjuang memberikan layanan kepada rakyatnya.

Meskipun disebut banyak sumber jika Kesultanan Serdang merupakan pecahan dari Kesultanan Deli yang disebabkan oleh konflik internal, namun jejak Kesultanan Serdang di sebagian wilayah Deli Serdang dan Serdang Bedagai masih kental dirasakan.

Peninggalan Kesultanan Serdang di beberapa titik masih banyak ditemui. Meskipun istananya sudah roboh dan kini hanya replikanya saja, namun masyarakat bisa melihat bekas peninggalan lain yang masih berdiri kokoh, yakni Masjid Basyaruddin yang berada di Rantau Panjang Kecamatan Pantai Labu, dan Masjid Sulaimaniyah yang berada di pusat kota Perbaungan dan Pantai Cermin serta Masjid Jamik Ismailiyah yang terletak di Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin.

Masjid-masjid Kesultanan Serdang sangat kental dengan corak Melayunya; seperti semiotika warna kuning, hijau, dan hitam yang melekat di dinding, atap, hingga kubahnya. Masjid peninggalan Sultan Serdang menjadi napas Keislaman pada masanya. Dan kini menjadi wisata religi bagi para pemeluk agama Islam yang ingin melihat lebih dekat sejarah Kesultanan Serdang.

Masjid Sultan Basyaruddin

Masjid Raya Sultan Basyaruddin di Desa Rantau Panjang, Kec. Pantai Labu, Kab. Deli Serdang, Sumatra Utara, telah berdiri sejak tahun 1854 dan menjadi saksi perjuangan Sultan Serdang.

Masjid Raya Sultan Basyaruddin atau yang dikenal dengan nama Masjid Rantau Panjang, memiliki nuansa etnis Melayu yang begitu kental.

Beberapa ornamen masjid, bahkan ada yang terbilang utuh dan merupakan komponen utama dari masjid sejak ratusan tahun silam.

Masjid ini berdiri pada tahun 1854 dan merupakan peninggalan asli dari Sultan Serdang yang ke-IV, yakni Tuanku Basyaruddin Syaiful Alamsyah.

Meskipun letaknya cukup jauh dari pusat kota, tetapi masjid ini pernah dijadikan sebagai markas Belanda pada bulan Oktober 1865, hingga akhirnya direbut kembali.

Perpaduan corak Eropa dan Melayu terlihat jelas di bangunan ini. Dinding dan bata beton bangunan ini mengadopsi gaya Eropa, sedangkan atap dan ornamen masjid memiliki nuansa tradisional Indonesia, terutama yang khas Melayu. Seperti busur-busur dan bunga melayu dengan corak berwarna kuning.

Uniknya, ada juga sebuah mimbar yang masih asli dan sudah ada sejak masjid ini pertama kali berdiri. Selain mimbar, bedug yang terletak di pelataran masjid juga berasal dari tahun yang sama.

Masjid Sulaimaniyah

Masjid Sulaimaniyah merupakan sebuah masjid raya yang berada di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara. Masjid ini merupakan masjid bersejarah yang didirikan pada tahun 1322 H/1901 M oleh Sultan Sulaiman Alamsyah (Sultan Serdang). Pembangunan Masjid Sulaimaniyah sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1889.

Masjid ini dalam pendanaannya ditanggung oleh Sultan Serdang. Hampir seluruh bahan bangunan yang digunakan berasal dari dalam negeri, kecuali marmer yang dipesan dari luar negeri. Selepas wafatnya Sultan Serdang, pendanaan masjid tetap dilanjutkan pembiayaannya oleh keluarga sultan.

Arsitektur Masjid Sulaimaniyah memiliki arsitektur gaya Melayu. Bangunan masjid memiliki perpaduan warna kuning dan hijau. Pada bagian kubah masjid, berbentuk segi empat memanjang dan di atasnya terdapat bulan sabit dan bintang.

Terdapat empat buah pilar besar di bagian dalam dan satu lampu hiasa di bagian tengah ruangan masjid. Di bawah langit masjid terdapat ornamen-ornamen kaligrafi ayat Al-Qur’an. Teras masjid ditopang dengan tiang-tiang kecil yang dihiasi oleh lampu yang mengililingi teras samping di bagian kiri dan belakang.

Luas bangunan Masjid Sulaimaniyah pada saat ini adalah 40 x 100 meter persegi. Pada awal berdirinya luas masjid ini hanya seluas 20 x 20 meter persegi, namun karena jamaah yang selalu bertambang sehingga daya tampung masjid semakin sesak. Makanya, dalam perkembangannya luas bangunan masjid selalu di perluas, mulai dari tahun 1965 M bangunan masjid ini diperluas menjadi 26 m x 26 m hingga sampai pada luas bangunan saat ini.

Masjid Sulaimaniyah memiliki dua kubah serta daya tampung masjid sekitar 2000 jamaah. Masjid ini juga memiliki perpustakaan dan sekolah madrasah dari tingkatan ibtidaiyah sampai ke tingkatan aliyah.

Masjid Ismailiyah

Satu dari sekian banyak yang cukup menarik perhatian adalah Masjid Jamik Ismailiyah yang terletak di Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin. Masjid ini merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Bedagai yang berdiri pada tahun 1884 atau sudah berusia hampir 140 tahun. Dikatakan menarik karena arsitektur bangunannya masih berusaha mempertahankan tampilan awalnya saat dibangun.

Masjid ini didirikan atas perintah Tengku Ismail, leluhur Tengku Ostman Raja dari Kerajaan Deli yang kini bersinggasana di Medan. Saat itu, kerajaan yang dipimpin Tengku Ismail gelar Pangeran Sulung Laut ini masih bernama Negeri Padang Bedagai. Wilayah kekuasaan meliputi Tanjung Beringin, Sei Rampah, Teluk Mengkudu, Dolok Masihul dan Bandar Khalifah. Tidak bisa dipungkiri, garis wilayah dan nama daerah itu telah turut mengilhami pembentukan Kabupaten Sergai.

Masjid telah mengalami pemugaran dua kali. Tahun 1937 penggantian atap yang semula dari genteng kemudian diganti dengan seng. Selain itu, posisinya ditinggikan sampai melebihi bangunan istana yang pada waktu masih berdiri. Kubahnya juga diganti dengan ukuran yang lebih besar. Bentuk atapnya tumpang seperti semula. Tahun 1982 dibangun menara dan penggantian lantai di bagian dalam masjid. Lantai semula dari tegel berukuran 30 x 30 cm, yang masih terlihat di serambi dan bagian belakang bangunan masjid. Selanjutnya tegel diganti dengan keramik.

Bentuk lengkung pada tembok yang merupakan pagar serambi masjid yaitu di bagian depan, samping kiri, dan kanan sudah diubah bentuknya dan adanya penambahan tiang (pilar) yang dibuat dengan bentuk yang terlihat sekarang. Adapun bentuk aslinya masih tampak pada bagian masjid yaitu berpagar tembok dengan bagian atas bergelombang dan memiiiki dua tiang sebagai penyangga atap.

Dari segi geografis, bagian utara dari masjid dibatasi oleh Sungai Bedagai dan rumah penduduk sedangkan bagian timur berbatasan dengan jalan raya dan perkebunan penduduk. Bagian barat juga berbatasan dengan perkebunan, sedangkan bagian selatan berbatasan dengan bekas istana Kerajaan Negeri Bedagai.

Luas lahan Masjid Jami lsrnailiyah kurang lebih sekitar 900 meter persegi dengan bangunan masjid sepanjang 24 meter, Iebar 20 meter, dan tinggi 30 meter.

Di halaman sebelah selatan dan barat dipenuhi dengan makam Sultan Bedagai dan keluarganya. Makam Sultan Bedagai Tengku Ismail Sulung Laut dengan kedua anaknya yaitu Tengku Rahmat dan Tengku Harun al-Rasyid berada dalam satu pagar tembok dan besi berukuran 6 x 3 m yang terletak di belakang masjid.[]

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »