[REVIEW] Masjid Agung As-Salafie: 138 Tahun Menjadi Saksi Sejarah dan Keagamaan di Caringin

redaksi
5 Min Read

SUARAMASJID.COM | Masjid Agung As-Salafie, atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Caringin, telah berdiri kokoh selama lebih dari satu abad di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Didirikan pada tahun 1886 oleh Syekh Asnawi bin Syekh Abdurrahman, masjid ini memiliki makna yang mendalam dalam sejarah penyebaran Islam di Provinsi Banten, sekaligus menjadi simbol kebangkitan masyarakat setelah bencana besar yang melanda wilayah tersebut.

Pembangunan masjid ini terjadi tak lama setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menghancurkan banyak wilayah sekitarnya, termasuk daerah Caringin. Letusan tersebut juga diikuti oleh tsunami besar yang mengguncang wilayah pesisir. Namun, meskipun menghadapi bencana besar, masyarakat Caringin dan Syekh Asnawi memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya membangun kembali tempat ibadah yang dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan setelah bencana.

Setelah peristiwa tersebut, Syekh Asnawi bersama pengikutnya memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih aman, yaitu Menes. Namun, dengan kembalinya situasi yang mulai stabil, Syekh Asnawi melanjutkan niatnya untuk membangun masjid yang baru di tempat yang aman, di mana masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan agama bagi masyarakat setempat.

Arsitektur Masjid yang Menarik

Masjid Agung As-Salafie berdiri megah di atas lahan seluas 2.500 meter persegi dan dikelilingi oleh tembok setinggi 115 cm. Akses ke halaman masjid dapat dijangkau melalui pintu yang terletak di sisi utara dan selatan. Dalam hal arsitektur, masjid ini mengadopsi gaya Moor, yang terlihat dari bentuk lengkungan pada pintu dan jendela. Selain itu, pengaruh arsitektur Belanda sangat terasa melalui penggunaan tiang-tiang, jeruji besi, dan bingkai kaca yang memperindah bangunan masjid.

Masjid ini memiliki bangunan utama berbentuk persegi dengan ukuran 12 x 12 meter dan lantai yang terangkat 120 cm di sisi timur. Pintu utama yang terletak di sisi timur berjumlah tiga buah, terbuat dari kayu dan kaca dengan lubang angin berbentuk trawangan setengah lingkaran. Semua elemen desain ini menunjukkan perpaduan antara pengaruh budaya lokal dan arsitektur kolonial yang harmonis.

Sejarah dan Partisipasi Masyarakat

Keberadaan Masjid Agung As-Salafie tak lepas dari partisipasi aktif masyarakat setempat. Pembangunannya melibatkan kontribusi masyarakat dalam bentuk tenaga dan sumber daya, yang turut menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap masjid ini. Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran untuk memastikan bangunan tetap terawat dengan baik. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2021, untuk menambah fasilitas dan kenyamanan bagi jamaah.

Sebagai salah satu simbol kebangkitan spiritual pasca-bencana, masjid ini terus memainkan peran penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Caringin. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat pengajaran Alquran dengan adanya empat pondok pesantren yang berada di sekitar area masjid. Seiring berjalannya waktu, masjid ini semakin penting dalam melestarikan nilai-nilai Islam di Provinsi Banten.

Pusat Kegiatan Keagamaan

Masjid Agung As-Salafie juga dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan. Setiap tahunnya, masjid ini dipenuhi jamaah yang datang untuk mengikuti sholat tarawih, pengajian Alquran, serta buka puasa bersama. Selama bulan Ramadhan, masjid ini menjadi tempat yang penuh keberkahan, dengan kapasitas yang dapat menampung hingga 500 jamaah, termasuk dari luar daerah.

“Masjid ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga tempat bagi kami untuk berkumpul dan belajar bersama. Kami sangat berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan masjid ini agar tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan yang membawa berkah bagi semua,” ujar Ustadz Mumu Asnawi, cucu dari Syekh Asnawi sekaligus Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung As-Salafie.

Menjaga Warisan Sejarah

Meski telah berusia lebih dari satu abad, Masjid Agung As-Salafie tetap kokoh dan terawat dengan baik berkat perhatian yang diberikan oleh masyarakat setempat dan pengurus masjid. Sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di Banten, masjid ini memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan keagamaan, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Caringin dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan segala keistimewaan dan sejarah yang melekat padanya, Masjid Agung As-Salafie tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kebangkitan dan keberlanjutan ajaran Islam di Provinsi Banten. Seiring berjalannya waktu, masjid ini diharapkan akan terus memberikan manfaat bagi umat Islam, baik dalam aspek spiritual maupun sosial, serta menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi generasi mendatang.[]

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »