SUARA MASJID | Lamongan–Masjid Agung Lamongan, menyimpan sejarah panjang Lamongan. Masjid yang didirikan pada tahun 1908 dengan gaya arsitektur Jawa yang khas itu menyimpan sejarag berdirinya Kabupaten Lamongan.
Lokasi Masjid Agung Lamongan berada di pusat kota, pembangunannya erat kaitannya dengan tata ruang kota di masa lalu, dimana alun-alun sebagai pusat aktivitas penduduk. Saat ini, Masjid Agung sudah dipagar menjadi lebih modern dengan ciri khas menara kembar.
“Masjid Agung Lamongan ini didirikan pertama kali pada tahun 1908. Pada saat itu masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Jawa, yaitu beratap tumpang 3 yang mengandung arti iman, islam dan iksan,” kata Sekretaris Takmir Masjid Agung Lamongan, HM Yunani CH.
Terdapat dua menara kembar di depan Masjid Agung Lamongan, masing-masing menara memiliki ketinggian 53 meter, ketinggian menara yang dibangun tahun 2012 tersebut disesuaikan dengan usia Nabi Muhammad SAW saat hijrah.
Beberapa kali renovasi dilakukan terhadap masjid ini, sejak awal didirikan hingga sekarang, tetap mempertahankan sejumlah benda yang menjadi objek cagar budaya, yaitu dua buah gentong, dua buah batu pasujudan (Prasasti) yang berada di depan masjid.
“Dua gentong air dan 2 batu pasujudan tersebut masih ada di depan masjid dan konon katanya gentong dan batu pasujudan tersebut berkaitan erat dengan kisah Panji Laras dan Panji Liris dengan Andansari dan Andanwangi, Wallahu alam,” ujarnya.
Ornamen di dalam masjid ini masih mempertahankan bangunan asli ketika masjid ini didirikan, yaitu tiang besar penyangga masjid yang terbuat dari kayu jati. Menara awal yang dibangun pada sekitar tahun 1970-an juga masih tetap dipertahankan. Lokasi muadzin yang berada di loteng atau ketinggian juga masih ada meski sudah tidak digunakan kembali.
Masjid Agung Lamongan ini berstatus sebagai masjid wakaf, dari Kiai Mahmoed, seorang ulama asal Bojonegoro yang telah lama menetap di Lamongan. “Berdasarkan informasi dari sesepuh, Mbah Kiai Mahmoed ini tidak memiliki ahli waris, sehingga tanah yang dimilikinya ini diwakafkan kepada masyarakat Islam di Lamongan, yang pada waktu itu dipercayakan kepada Mbah Kiai Mastur Asnawi,” katanya.
Lebih lanjut Yunani menjelaskan, di tangan Kiai Mastur Asnawi, bangunan Masjid Agung perlahan dikembangkan dan direnovasi secara bertahap, dengan cara gotong royong.
Sejak pertama dibangun, Masjid Agung Lamongan tercatat telah mengalami beberapa kali renovasi. Yang pertama dibangun ke depan, sesuai dengan bangunan yang lama, dengan joglo 3 susun yang bermakna iman, Islam dan ihsan.
“Kemudian dikembangkan ke kanan dan kiri, kemudian pembangunan bagian depan atau wajahnya ini, ini dibangun 2 kali, yang pertama difasilitasi oleh yayasan muslim Pancasila, zamannya Pak Darmono, (Wapres pak Soeharto),” tuturnya.
Kemudian karena kondisi bangunan yang sudah tua, bagian depan masjid kembali diperbarui dengan bangunan yang sekarang.
“Renovasi yang terakhir ini dibangun tahun 2012 dan selesai pada tahun 2015,” ujar Yunani.
Selain itu, di serambi utara masjid juga terdapat 3 makam. Yaitu makam Kiai Mahmoed, Kiai Mastur Asnawi dan satu lagi makam kosong yang awalnya disediakan untuk mendiang istri Kiai Mahmoed.
“Jadi memang beberapa bagian masih kita pertahankan. Seperti mimbar ini, yang sekarang kita lapisi dengan kayu. Kemudian menara lama, juga masih ada,” ucap Yunani.
Selain itu, di dalam masjid ini juga terdapat mushaf Al Quran besar yang berada di sisi kanan masjid. mushaf Al Quran ini memiliki ukuran 240×155 sentimeter buah karya dari Ustaz Rusdi Aliuddin, pengasuh Madrasah Diniyah Nurul Iman, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket. Mushaf Alquran yang memiliki ketebalan 17 cm itu memiliki berat sekitar 350 kg dan untuk melindungi mushaf Al Quran raksasa itu disimpan dalam kotak kaca.
Masjid Agung Lamongan yang berada di jantung kota Lamongan ini menjadi satu dari sekian masjid di Lamongan yang kerap menjadi jujugan wisata religi di Lamongan. Lokasinya yang strategis dan keindahan arsitekturnya membuat yang pengunjung kerasan untuk berlama-lama di masjid ini. [fat]
