[REVIEW] Tiga Masjid Bersejarah di Wilayah Gunungkidul

redaksi
4 Min Read

SUARA MASJID | Gunungkidul, yang terletak di bagian selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah sebuah kabupaten yang menawarkan pesona alam yang menakjubkan dan beragam. Namun di balik keindahan alamnya ini, Gunungkidul juga menyimpan beberapa masjid bersejarah yang memiliki nilai budaya dan religius yang tinggi.

Mau tahu masjid apa saja yang memiliki nilai Sejarah di Gunungkidul? Berikut adalah tiga masjid bersejarah di wilayah Gunung Kidul:

Masjid Al-Huda

Masjid Al-Huda yang terletak di Pedukuhan Sidorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki kisah sejarah yang menarik. Diperkirakan didirikan oleh Ki Ageng Giring III, seorang penyebar Islam yang dikenal luas sebagai pengawal wahyu dari dinasti Mataram.

Struktur masjid ini kini telah mengalami pembaruan dengan tampilan yang lebih modern. Di bagian depan, terdapat papan nama yang menyebutkan Masjid Kagungan Dalem Keraton Yogyakarta. Sayangnya, tahun pasti pendirian masjid tersebut tidak dapat dilacak. Menurut Yusuf, takmir Masjid Al-Huda, masjid ini sudah ada sejak masa Ki Ageng Giring III dan terletak dekat dengan makam tokoh tersebut.

Yusuf juga menjelaskan mengenai plakat kagungan dalem (milik keraton) yang ada, yang menunjukkan bahwa kompleks masjid, sendang, dan makam Ki Ageng Giring berada di atas tanah yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta. Salah satu legenda Jawa menceritakan bahwa Ki Ageng Giring menerima perintah untuk menanam sabut kelapa, yang kemudian tumbuh menjadi pohon. Buah dari pohon itu diyakini sebagai wahyu kerajaan yang kemudian diminum oleh Ki Ageng Pemanahan, pendiri dinasti Mataram.

Masjid Tiban

Salah satu masjid yang menarik perhatian adalah Masjid Tiban yang terletak di Padukuhan Jurangjero, Kalurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul. Masjid ini tetap berdiri kokoh dengan bentuknya yang sederhana dan tidak banyak mengalami perubahan. Terletak di pekarangan rumah warga, masjid ini dijaga oleh Manto Suwitnya.

Berukuran kecil, yaitu 4×4 meter dengan tinggi sekitar 2 meter, bangunan masjid ini lebih menyerupai rumah panggung khas Yogyakarta. Dibangun tanpa menggunakan paku, dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atapnya terbuat dari ilalang kering. Pondasi masjid ini terdiri dari kayu berukuran besar yang ditancapkan dengan teknik pantek. Di depan masjid, terdapat gentong dari tanah liat yang berfungsi untuk menampung air wudhu.

 

Masjid Nurul Huda

Masjid Nurul Huda terletak di Jalan Brigjen Katamso, Dusun Bansari, Kepek, Wonosari, Gunungkidul, di sebelah barat alun-alun Wonosari. Masjid ini memiliki kubah berbentuk meru yang ditopang oleh sejumlah tiang. Dengan atap tumpang sari dan dihiasi dengan ornamen Gada, masjid ini menghadirkan tampilan arsitektur tradisional Jawa yang kental.

Masjid ini merupakan hasil pemindahan dari Kabupaten Ponjong pada tahun 1901, bertepatan dengan perpindahan ibukota Kabupaten Ponjong dari Ponjong ke Wonosari, lalu ke Purbosari, dan terakhir ke Kepek. Struktur masjid menampilkan karakteristik arsitektur masjid tradisional Jawa, dengan serambi atap canopi dan atap limasan bertingkat dua di bagian belakang. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu dan jendela khas, di mana kusen jendela serta pintu terbuat dari kayu, menguatkan nuansa tradisional yang ada pada Masjid Nurul Huda.

Masjid-masjid bersejarah ini hingga kini masih terawat, para pengunjung yang datang bisa menikmati ibadah di masjid ini. Untuk tetap menjaga kebersihan masjid ini, perlu peran serta masyarakat ntuk bisa mengedukasi masyarakat akan pentingnya kebersihan di lingkungan masjid.[]

 

 

⇒ Kunjungi dan Dapatkan Berita Seputar Masjid dengan Cepat di ⇒ GOOGLE NEWS ⇐

Share This Article
Translate »