SUARA MASJID | Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, terletak di pusat Kota Kabupaten Bireuen. Tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 1, Dusun Kommes, Desa Bireuen Meunasah Capa, Kecamatan Kota Juang.
Masjid yang dibangun sejak tahun 1965 ini, kini terus berbenah dan semakin indah. Bahkan masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen, terus diperluas.
Letaknya yang sangat strategis, masjid yang mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, kini menjadi tujuan wisatawan religi. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah. Bahkan masjid ini juga sering dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk melangsungkan pernikahan dan prewedding.
Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tidak hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia.
Masjid Agung Bireuen ini memiliki sejarah panjang. Dulu masjid ini belum memiliki nama, atau sering dikatakan oleh jamaah dan masyarakat setempat sebagai Masjid Jamik.
Sejak beberapa tahun ini, berubah nama menjadi Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh.
Pembangunan masjid ini, awalnya pada tahun 1965, terbit sebuah kesepakatan pembangunan masjid, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya masjid.
Saat Bireuen dipimpin oleh H Mustafa A Glanggang, di masjid ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu.
Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan catatan sejarah bagi Aceh serta Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu.
Akhirnya Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen menjadi sebuah masjid nan megah. Saat ini, masjid ini memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih.
Kini masjid ini mulai diperluas ke bagian baratnya dan akan ditambah tiga kubah dan dua menara di bagian Utara dan Selatan. Tempat wudhuknya pun sudah dibangun baru di sebelah barat dan sebelah utara.
Tempat wudhu sebelah Utara merupakan wakaf H Jamaluddin A Gani, pengusaha sekaligus pengurus Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen.
Di bagian belakang terdapat ruang kegiatan remaja masjid, ruang pustaka, kantor, dan satu ruang istirahat para imam saat shalat Jumat atau shalat lima waktu.
Di belakang masjid itu terdapat satu bangunan dua tingkat yang digunakan sebagai tempat mahad Alquran, yang dibangun tahun 2000 lalu. Terdapat pula TK/TPA di bawah Yayasan Mahad Alquran. Terdapat satu TK Raudhatul Ilmi, di bawah Yayasan Raudhatul Ilmi.
Lantai masjid diganti marmer yang didatangkan khusus dari negara Turki. Begitu juga plafon dan dinding serta kubah yang digunakan dengan kaligrafi indah yang dilukis oleh ahli kaligrafi khusus didatangkan dari Cirebon, Jawa Barat.
Masjid Agung ini memiliki lantai yang bersih dan lingkungan yang bersih, para pengunjung yang datang bisa menikmati ibadah di masjid ini. Untuk tetap menjaga kebersihan masjid ini, perlu peran serta pemerintah setempat, masyarakat atau organisasi untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kebersihan di lingkungan masjid.[]
